Tanpa terasa, tanpa dirasa, tanpa ada beban,
tanpa ada penderitaan menjalani hari-hari di bangku pengharapan,
kujalani apa adanya perjalalanan ini, tanpa terasa berakhir jua.
Karena apa? di bumi pengharapan ini udara terasa segar, cuacanya sejuk,
angin spoi-poi basah membasahi hati ini, membasahi jiwa ini.
Semenjak kuinjakkan kaki di bumi pengharapan ini,
aku lalui dengan penuh keikhlasan,
aku jalani dengan penuh kesabaran dan tiada beban,
tiba-tiba tersibak dengan penuh harapan.
Bekal pengetahuan, bekal akhlak budi pekerti, bekal seni, bekal keterampilan dan bekal masa depan telah aku dapatkan.
Di bumi pengharapan ini aku menapak dengan pasti, aku berdiri dengan tegak,
aku berjalan tiada beban, aku menanti tanpa bosan,
aku jalani sebagaimana diriku yang sebenarnya,
bukan dengan pura-pura tetapi dengan apa adanya.
Di bumi pengharapan ini aku lalui dengan pasti,
semenjak kaki menapak di bumi pengharapan,
terpampang luas hamparan budi pekerti,
terpampang luas indahnya lautan ilmu,
terpampang luas indahnya seni,
terpampang luas keceriaan dan kesabaran para pengabdi negri.
Tonggak masa depan sudah aku dapatkan,
kujadikan bekal menatap harapan, menatap hari esok,
menatap asa yang penuh tidak pasti.
Di bumi pengharapan aku jalani dengan penuh kegigihan dan kepasrahan,
bukan dengan keluh kesah dan keputusasaan.
Di bumi pengharapan adalah meniti taqdir yang telah ada,
menuju cita-cita nan jauh di sana.
Di bumi pengharapan adalah gambaran di masa datang yang penuh kepastian.
Di bumi pengharapan adalah tambatan hati menerawang masa depan,
masa yang penuh pertanyaan, masa yang harus diperjuangkan,
masa yang menjadi harapan.
Ya Allah, hanya padamu tambatan ini aku ikatkan,
Rodhitu billahi rabba, wabil islami dina, wabi Muhammadin nabiyu warosulla, rabbi zidni ‘ilma warzukni fahma.