Senin, 29 Desember 2014

HAMBAMU


Betapa lega hati ini
rela untuk berbagi
demi kepuasan hati
hamba-hamba yang peduli
peduli pada diri sendiri
peduli sesama insani
peduli perintah Illahi
tiang pancang tinggal sindiri
tali pengikat tautan hati
kini merana tidak berarti
bergelantung di tempat yang sunyi
menanti setahun lagi
pengikat tautan hati
menanti hamba bersiap diri
mengapa kurang menyadari?
hamba ini tinggal menanti
kapan kita kan pergi
untuk apa kita mencari
jika bukan untuk berbagi


STORY OF MY FATHER

Meniti Taqdir
Di dunia adalah meniti taqdir yang telah ditetapkan oleh Allah SWT, manusia tinggal menjalani sekenario yang telah di tetapkan. Jika digambarkan perjalanan manusia seolah bagaikan mimpi di tengah indahnya panorama alam di sekitarnya. Di awal perjalanan pada hari, tanggal dan bulan yang tidak dicatat lahirlah seorang jabang bayi dari rahim seorang ibu yang bernama Sulasmi yang diberi nama Suparli, tetapi karena nama tersebut  kurang cocok ketika itu pula oleh pakde Suratno diganti dengan nama Supardi. Dalam perjalannya bayi tersebut berkembang sebagaimana jaman ketika itu, yang dibesarkan bersama taqdir, yang jika digambarkan besar kemenyan lebih besar daripada besar kepalanya, bersama brambang dan daun dadap srep yang senantiasa mendampinginya, air susu ibu satu-satunya asupan yang walaupun hanya dengan makanan sekenanya dapat menghidupi bayi tersebut.Yang ketika itu kelahiran hanya didampingi seorang dukun bayi profesional, karena merekalah satu-satunya tumpuan hidup dan mati kelahiran seorang bayi, yang ketika itu sebenarnya negara sudah merdeka, pemerintah sudah berdiri, tetapi masih belum hadir di daerah pegunungan terpencil di Desa Pager Lor. Pamong desa yang ada masih berbau teodalisme, masih ingin dilayani bukan sebagai pelayan masyarakat, bahkan konon ceritanya seorang Lurah masih memiliki sentono (ajudan) yang tugasnya begitu mulia karena sebagai penderek/abdi , yang bahkan ketika berada di forum pertemuan jika seorang lurah kentut disuruh mengakui sentono tersebut untuk menutupi aib lurahnya.  Dengan tantangan dan beratnya kehidupan ketika itu, simbok (ibu) membesarkan bayi tanpa didampingi seorang suami, karena ditinggal merantau di bumi seberang pulau Sumatra di Lampung untuk mengadu nasib, walaupun sebenarnya tidak mendapatkan penghasilan yang layak untuk keluarga. Bayi tersebut mengalami pertumbuhan sebagaimana adanya zaman itu, yang sudah saya sadari ketika itu aku di asuh oleh keluarga kakek (Rono setro) dan nenek (Jemirah), seorang nenek yang begitu perhatian walaupun baru saya ketahui ketika aku sudah jadi guru ternyata nenek tersebut nenek tiri, karena istri kakek yang bernaa Toinah sudah meninggal ketika simbok (ibu) masih bayi. Kakek dan nenek begitu perhatian terhadap aku, yang aku ingat katanya kesukaan saya sayur santan, sehingga walaupun bagaina caranya kakek harus memanjatkan kelapa. Yang tak mungkin kelupakan jika nenek pergi ke pasar keso aku diajak makan soto, makanan langka ketika itu, dan dibelikan sempritan pada mbah Sodinomo. Jika aku sakit segera diajak ke rumah mbah dukun yang bernama mbah Noyo,  dengan membawa sebungkus syarat dari daun pisang yang berisi tembakau dan kemenyenan serta sedikit uang jika punya. Pagi-pagi benar sudah tiba di rumah mbah dukun dengan harapan ludahnya yang masih bacin dengan mengunyah sedikit kemenyan dengan bibir komat-kamit kemudian menyemburkan kemenyan tersebut di ubun-ubun saya. Dengan keyakinan yang besar dan secara alamiah sakit saya lambat laun sembuh. Seorang nenek tiri yang begitu perhatian terhadap saya hahkan baru saya ketahui setelah sudah dewasa. Ternyata tidak semua yang bernama tiri memandang sebelah mata terhadap cucunya, ketika panen kelapa tidak lupa membelikan sedikit daging kambing yang dimasak dengan parutan kelapa (dendeng ragi) disimpan baik-baik di dalam kothak meja dapur dan diberikan pada saya untuk beberapa hari dan hanya sebagian yang diberikan pada keluara yang lain, ini pertanda kecintaan nenek pada saya. Juga yang selalu saya ingat jika ngebruk nasi di atas iyan yang dikipasi ilir dipegang sebelah kiri dan enthong di sebelah kanan m encampur nasi tersebut agar pulen thiwul dan sedikit beras tersebut dan tidak lupa menyisihkan sedikit nasi putih (ucet) yang ada untuk saya.  Juga apabila saya sakit perut tidak lupa dimasakkan jeroan dengan bumbu cabe untuk kesembuhan sakit saya, dan jika saya sakit kulit (kadas atau kudis) maklum kebersihan ketika itu masih minim dan pakaianpun hanya seadanya, mandi tidak terjadual pasti, kadang siang, kadang sore, adapun obatnya disuruh mencari sendiri yaitu dengan berburu tokek kemdian dipanggang oleh nenek dimumbui dengan kunir dan asem, begitu lezatnya dan tak lama kemudian secara alamiah dan khsiat dari tokek tersebut segera sembuh. Ketika usia saya diantara kesadaran dan belum, kakek saya meninggal dengan menderita sakit di dada sebelah kiri tumbuh benjolan, yang sebelumnya sudah diupayakan dengan mencari dukun kemana-man sampai dukun prewangan namun ajal tak bisa ditolak. Saat itu selamatan dilakukan oleh seluruh anak-anaknya dengan menyembelih kambing sendiri-sendiri dan kenduri dilaksanakan pagi hari. Itupun saya belum merasa kehilangan atas kematian kakek saya bahkan merasa senang ketika berpindah-pindah kenduri dengan lauk daging kambing, bahkan ketika jatuh saatnya kenduri di rumah nenek tak lupa nenek menyisihkan ginjal dan alat kelaminnya untuk saya. Ketika kakek sudah meninggal saya diasuh nenek bersama siwo/pakde Suyitno (anak tiri), siwo/mbokde Boinah (anak kandung nenek) dan Yu Katirah cucu nenek yang lain. Jika musim padi aku diajak keluarga ke hutan menanam padi dan yang selalu saya ingat sebelum menanam padi di lakukan kenduri di Ranggon dengan tumpeng nasi campur dan urap seadanya dan memetri (nasi dicetak dengan cangkir) tidak lupa sanntan yang di tuang ke dalam cangkir yang diberi irisan buah terong, enaknya luar basa. Ketika padi padi sudah berisi saya diajak tunggu burung di hutan bersama wo Suyitno dengan dibekali nasi thiwul dikrawu,  kemudian saatnya makan diambilkan lomtoro.  Kehidupan saat itu begitu berat, mencari sesuap nasi thiwul pun tidak gampang, lahan sebenarnya ada tetapi belum bisa mengolah lahan dengan maksimal, ditanami ketela, sedikit polowijo seadanya, padipun hanya panen satu kali setahun. Ketika larang pangan wo Boinah yang kakinya cacatpun harus membeli gebing ke Panggul dan di jual ke pasar Lorok, dimana setiap kebo/sak mengambil 5-7 blebek gebing untuk dimakan kemudian dijual yang penting bisa pulih modal. Ketika puncak larang pangan harus kami sekeluarga hanya makan srikoyo dikukus kemudian dikrawu dengan sayur daun ketela, itupun berlangsung dalam waktu yang cukup lama hanya sesekali makan nasi thiwul. Ketika menginjak dewasa akupun belum tahu siapa ibu dan siapa ayah, karena nenek itulah yang saya anggap orang tua saya. Ketika masa kecil saya tidak merasakan kasih sayang seorang ibu dan seorang ayah, karena ibu hidup sendiri di rumahnya dan ayah ada di Lampung. Pada saat ayah sudah pulang dari perantauannya, ayahpun hanya sesekali menyambangi dan itupun hanya di rumah mbale sedangkan saya di rumar dapur bersama nenek, tidak pernah menyapa saya hanya nenek cerita kalau bapakmu ada di mbale, ibupun demikian walaupun berada di rumah entah karena apa, tidak pernah menengok saya. Masa kecil saya banyak bergaul dengan anak-anaknya wo/de Soinem, yu Laminah, yu Samurah, kang Utari/Utoro. Pada usia sekolah masuk kelas satu, sayapun masih terlampau belum menyadari pentingnya pendidikan, setiap hari berangkat sekolah selalu siampiri kang Utari dan kang Sujatno, dengan alat tulis sabakbdan grip. Dengan berangkat ke sekolah kadang belum mandi, pakaian seadanya bahkan memiliki pakaian mungkin hanya satu setel, untuk sekolah, untuk bermain, untuk ke langgar dan jarang di cuci bahkan mencucipun belum dengan sabun sesekali dengan daun jarak. Beranjak dewasa aku punya pekerjaan ngarit, tidak kenal hujan/panas aku melakukan pekerjaan itu, di sekolah yang penting berangkat, belum ada motivasi dari dalam maupun dari luar. Aku di sekolah tidak tergolong anak yang pandai, di kelas itu yang pandai kang Sujatno, kang Utari, tetapi jiwa kepemimpinan sudah ada, terbukti tanpa aku minta selalu sebagai ketua kelas sampai dengan kelas enam, bahkan ketika Upacata bendera aku ditunjuk sebagi komendan Upacara. Sekali lagi walaupun sebagai komandan upacara pakaian hanya seadanya. Pada masa usia SD kesenian yang ada kethoprak, Ludruk dan yang paling populer Reog Ponorogo.
Walaupun suka nonton nuansa magis masih mencolok, sebelum reog dimainkan kepala reog ditaruh di atas kursi sambil dikutuki dengan kemenyan diiringi gamelan yang bertalu-talu konon untuk mengundang setan dan penonton, sehingga walaupun merasa terhibur menonton dihantui rasa takut jika ada parogo reog yang mbabuk, bahkan ketika mbabuk sebuah kelapa hanya dibuka dengan kekuatan gigi.
Menonton Ludruk dari Lorok ketika itu di keso Pager Kidul sampai-sampai hafal dengan tari remonya. Saking sukanya dengan Ludruk sampai-sampai di amben dapur rumah nenek aku gunakan sebagai panggung sebagamana layaknya tempat bermain ludruk. Adapun alat yang digunakan Jarik/ sampir nenek untuk geber, akar sejenis sembu’an untuk kabel, kukusan amoh sebagai corong/spiker, separo bathok kelapa dan d ibungkus kain, dengan asiknya bermain sendiri nggandang, ngremo, diiringi dengan gong gonjor tabuh congor. Disamping itu juga sudah rajin mengaji di Langgar Keser sesekali nginap dan yang paling terkesan, ketika nginap di langgar aku ngompol, dibangunkan untuk berwudhu di kali bersama-sama, aku cepat-cepat kembali lebih dahulu menempati bekas tidur saya agar bau ompol tidak diketahui orang lain, yang ketika itu belum memahami pentingnya bersuci. Di Langgar Keser ketika itu juga dibuka madrasah yang dilaksanakan setelak shalat Isak, yang shalat Isaknya bukan jam tujuh tetapi setelah habis ngaji seluruh siswa, di rumah wo/de Toimin/Ginem. Jika bulan Ramadhan nambak, sayur dicampur di rumah wo Ginem untuk makan sahur besama-sama. Dan ketika aku di rumah Simbok/Bapak aku ngaji bersama kang Sarmin di Crabak dan jika Ramadhan aku nginap di rumah kang Sarmin/mbah Kadinem makan sahur dengan sayur seadanya dan lauk jenang piteng.
Ketika kelas lima aku pulang ke rumah Bapak/simbok di Nggondang bersama-sama Mbah Pojoyo. Saat itu untuk biaya sekolah dll aku sambil buruh memanjat kelapa milik tetangga, yang menjadi langganan kelapa mbah Kartiyem, kelapa wo Sariman dan sesekali milik wo Rakim  hasil buruhannya dijual untuk memenuhi kebutuhan sendiri, bahkan simbokpun pernah meminjam yang tak pernah dikembalikan. Pada saat memanjat kelapa di rumah wo Sariman, beliau dapat undian nalo 17 agustus dengan hadiah kambing, akhirnya kambing tersebut saya pelihara, kandangpun saya bikin sendiri tanpa bantuan orang tua. Di rumah orang tua sendiripun pernah mengalami larang pangan, bahkan ketika itu dapat bantuan gaplek yang sudah dimakan bubuk itupun rasanya enak sekali karena dalam beberapa hari bahkan bulan yang dimakan gelang dari pohon aren.Pohon aren ditumbuk dijadikan jenang godir, dijadikan nasi untuk dimakan setiap hari.
Setelah ujian SD aku dengan Pak Wasidi didaftarkan ke SMPN Lorok, ketika itu saatnya banjir aku dititipkan Pak Imam Njayan bersama putranya untuk menyeberang sungai dan mentas di Prancak untuk mengikuti tes di SMP, tetapi dengan pengetahuan yang kurang tidak lulus, akhirnya mendaftar di SMP Pancalia. Sepeninggalan saya ke SMP lima kambing aku tinggalkan, akhirnya entah kemana kambing tersebut telah habis.


      

GERBANG KESUKSESAN


Pendidikan adalah gerbang menuju kehidupan yang lebih baik dengan memperjuangkan hal-hal terkecil hingga hal-hal terbesar yang normalnya akan dilewati oleh setiap manusia. Pendidikan adalah bekal untuk mengejar semua yang ditargetkan oleh seseorang dalam kehidupannya.Sehingga tanpa pendidikan, maka semua yang diimpikannya akan menjadi sangat sulit untuk dapat diwujudkan.
Memang tidak semua orang yang berpendidikan sukses dalam perjalanan hidupnya, tetapi jika dilakukan perbandingan maka orang yang berpendidikan tetap jauh lebih banyak yang bisa mengecap kesuksesan dari pada orang yang tidak pernah mengecap pendidikan, baik pendidikan formal maupun non formal. Pendidikan adalah alat untuk mengembangkan diri, mental, pola pikir dan juga kualitas diri seseorang.
Meskipun pendidikan tidak menjamin kesuksesan seseorang, namun pendidikan akan membekali anda kualitas diri yang lebih baik sehingga anda akan lebih berpeluang untuk mendapatkan apa yang kita cita-citakan.
Pendidikan adalah prioritas untuk menjuju kearah yang lebih baik, dan masa depan yang lebih layak dan cemerlang.


MENGEJAR ASA DI BUMI PENGHARAPAN

Tanpa terasa, tanpa dirasa, tanpa ada beban,
tanpa ada penderitaan menjalani hari-hari di bangku pengharapan,
kujalani apa adanya perjalalanan ini, tanpa terasa berakhir jua.
Karena apa? di bumi pengharapan ini udara terasa segar, cuacanya sejuk,
angin spoi-poi basah membasahi hati ini, membasahi jiwa ini.
Semenjak kuinjakkan kaki di bumi pengharapan ini,
aku lalui dengan penuh keikhlasan,
aku jalani dengan penuh kesabaran dan tiada beban,
tiba-tiba tersibak dengan penuh harapan.
Bekal pengetahuan, bekal akhlak budi pekerti, bekal seni, bekal keterampilan dan bekal  masa depan telah aku dapatkan.
Di bumi pengharapan ini aku menapak dengan pasti, aku berdiri dengan tegak,
aku berjalan tiada beban, aku menanti tanpa bosan,
aku jalani sebagaimana diriku yang sebenarnya,
bukan dengan pura-pura tetapi dengan apa adanya.
Di bumi pengharapan ini aku lalui dengan pasti,
semenjak kaki menapak di bumi pengharapan,
terpampang luas hamparan budi pekerti,
terpampang luas indahnya lautan ilmu,
terpampang luas indahnya seni,
terpampang luas keceriaan dan kesabaran para pengabdi negri.
Tonggak masa depan sudah aku dapatkan,
kujadikan bekal menatap harapan, menatap hari esok,
menatap asa yang penuh tidak pasti.
Di bumi pengharapan aku jalani dengan penuh kegigihan dan kepasrahan,
bukan dengan keluh kesah dan keputusasaan.
Di bumi pengharapan adalah meniti taqdir yang telah ada,
 menuju cita-cita nan jauh di sana.
Di bumi pengharapan adalah gambaran di masa datang yang penuh kepastian.
Di bumi pengharapan adalah tambatan hati menerawang masa depan,
masa yang penuh pertanyaan, masa yang harus diperjuangkan,
masa yang menjadi harapan.
Ya Allah, hanya padamu tambatan ini aku ikatkan,
Rodhitu billahi rabba, wabil islami dina, wabi Muhammadin nabiyu warosulla, rabbi zidni ‘ilma warzukni fahma.

Minggu, 28 Desember 2014

MALAIKAT TANPA SAYAP


Malaikat tanpa sayap itu adalah guru. Guru menjadikan anak-anak bangsa sebagai perintis negara yang gemilang. Maupun begitu, sebagian besar anak-anak muda masih belum mengerti apakah fungsi guru sebenarnya. Bagi mereka, guru yang kebiasaannya dilihat sebagai insan yang mengarah mereka memberi kerja rumah. Sedangkan tidakkah mereka tahu, tugas guru lebih daripada itu, bukan setakat mengajar saja.
Guru tepat sekali diibaratkan sebagai malaikat. Mereka mendidik kita sebagaimana dengan sepenuh hati. Mengajar sesuatu yang baru, mengenal huruf, mengajar mengeja, membaca, mengira dan sebagainya. Contohnya, dalam pendidikan jasmani dan kesehatan, guru mengajar kita menjaga kesehatan. Di sini jugalah anak-anak murid menemui bakat mereka, menemui minat mereka. Tidakkah mereka sadar, guru lah memberi inspirasi pada mereka sebenarnya.

JIKA AKU MENJADI KEPALA SEKOLAH


1.       Siswa harus sampai sekolah pada pukul  06.00 wib
2.       Sebelum masuk jam pelajaran siswa mengaji dahulu kepada ustad/guru.
3.       Jam 07.00 siswa masuk kelas dan memulai pelajaran
4.       Sebelum pembelajaran dimulai siswa terlebih dahulu hafalan surat pendek maupun               panjang  sampai 07.30 wib
5.       Setelah itu pembelajaran bisa dimulai
6.       Kemudian jam istirahat pukul 09.00 siswa dan para guru pergi ke mushola untuk                  melaksanakan shalat dhuha sampai jam 09.15
7.       Setelah itu pembelajaran dimulai lagi sampai selesai
8.       Pada waktu jam pelajaran sudah habis, sebelum pulang siswa dan para guru di ajak untuk  melaksanakan shalat dhuhur berjamaah
9.       Setelah shalat dhuhur berjamaah siswa bisa untuk pulang.
10.   Untuk hari selasa dan hari kamis siswa diwajibkan untuk mengikuti ekstra yaitu Qira’ah pada sore hari pukul 03.00-05.00 wib
11.   Pada hari jumat mubarak tidak ada pelajaran, melaikan  siswa melaksanakan senam pagi setelah itu siswa disuruh untuk mengembangkan bakat yang dimiliki siswa atau kegemaran siswa untuk disalurkanya
12.   Untuk hari sabtu siswa diwajibkan untuk kegiatan gemar membaca, suka tidak suka siswa harus membaca untuk menambah pengetahuan dan wawasan yang dimiliki 

MENITI ASA ANAK NEGRI

 Ketika menatap raut wajah kepolosan anak negri,
tanpa kau sadari bahwa kamu memilki valensi,
tanpa kau sadari bahwa kamu akan menjadi,
tanpa kau sadari bahwa kamu adalah penerus generasi,
tanpa kau sadari bahwa kamu adalah masa depan negeri.
Tataplah masa depan dengan pasti,
sejauh mata memandang,
sedalam lautan luas,
setinggi langit biru.
Jangan hiraukan kerikil tajam menerpa diri,
jangan hiraukan celoteh burung berkicau walau merdu merayu,
Jangan terlena dengan mimpi indah yang penuh kepalsuan.
Teriakkan pekik bahwa “Aku bisa”.
Jalan itu setapak telah kau lalui,
perjalanan panjang anak negri,
renungkan bahwa hidup ini penuh arti.
Tataplah masa depan dengan motivasi,
semula aku kecil ingin menjadi besar,
semula aku tidak bisa ingin menjadi bisa,
aku ingin menjadi anak negri yang penuh arti,
aku ingin memiliki, memiliki seperti orang lain punya,
memiliki ilmu, karena dengan ilmu akan menemukan kunci dunia, mengapa?
Karena aku punya potensi, aku punya diriku sendiri bukan orang lain.
Di negri tercinta ini membutuhkan orang-orang pandai yang mengerti,
membutuhkan orang-orang cerdas yang berbudi pekerti,
membutuhkan orang-orang yang tidak hanya berdiam diri.
Perjalanan anak negri adalah meniti taqdir illahi yang belum dimengerti,
dimana berada?, dimana harus dicari?, di dalam dirimu sendiri.
Pengabdi negri hanya memberi sedikit arti, dari arti kehidupan yang hakiki.
Pergilah sejauh kau mau, janganlah tengok kanan dan tengok kiri karena,
di sana ada kepastian.

SEPASANG BIDADARI MENCETAK PRIBADI YANG HEBAT


Pendidikan merupakan faktor utama dalam pembentukan pribadi manuia. Pendidikan sangat berperan dalam membentuk baik atau buruknya pribadi manusia menurut ukuran normatif. Disisi lain proses perkembangan dan pendidikan manusia tidak hanya terjadi dan dipengaruhi oleh proses pendidikan yang ada dalam sistem pendidikan formal ( sekolah ) saja. Manusia selama hidupnya selalu akan mendapat pengaruh dari keluarga, sekolah, dan masyarakat luas. Ketiga lingkunga itu sering disebut sebagai tripusat pendidikan. Dengan kata lain proses perkembangan pendidikan manusia untuk mencapai hasil yang maksimal tidak hanya tergantung tentang bagaimana sistem pendidikan formal dijalankan. Namun juga tergantung pada lingkungan pendidikan yang berada diluar lingkungan formal.
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencan untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran atau pelatihan agar peserta didik scara aktif dapat mengembangkan potensi dirinya supaya memiliki kekuatan spritual keagamaan, emosional, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
Dilihat dari segi anak didik, tampak bahwa anak didik secara tetap hidup di dalam lingkungan masyarakat tertentu tempat ia mengalami pendidikan. Salah satunya yaitu lingkungan tersebut meliputi lingkungan keluarga.
Keluarga merupakan pengelompokan primer yang terdiri dari sejumlah kecil orang karena hubungan searah. Keluarga itu dapat berbentuk keluarga inti ( ayah, ibu, dan anak ). suasana kehidupan keluarga merupakan tempat yang sebaik-baiknya untuk melakukan pendidikan individual maupun pendidikan sosial.
Keluarga merupakan lembaga pendidikan tertua, bersifat informal, yang pertama dan utama dialamai oleh anak serta lembaga pendidikan yang bersifat kodrati orang tua bertanggung jawab memelihara, merawat, melindungi, dan mendidik anak agar tumbuh dan berkembang dengan baik.  Pendidikan keluarga berfungsi Sebagai pengalaman pertama masa kanak-kanak, Menjamin kehidupan emosional anak, Menanamkan dasar pendidikan moral, Memberikan dasar pendidikan sosial, dan Meletakkan dasar-dasar pendidikan agama bagi anak-anak.
Jadi lingkungan keluarga sebagai dasar pembentukan sikap dan sifat manusia. Proses mencapai tujuan pendidikan untuk menghasilkan manusia yang unggul baik secara pribadi maupun penguasaan ilmu pengetahuan tidak hanya tergantung tentang bagaiamana sistem pendidikan dijalankan oleh lingkungan pendidikan formal. Namun juga dipengaruhi oleh lingkungan keluarga.



SIFAT-SIFAT GURU

SIFAT-SIFAT YANG HARUS DIMILIKI OLEH SEORANG GURU
Yaitu Guru Harus;
1.    Bertaqwa
2.    Cinta Tanah Air
3.    Jujur
4.    Tegas
5.    Bertanggung Jawab
6.    Sopan
7.    Santun
8.    Berbudi Luhur
9.    Terpuji
10. Tidak Sombong
11. Disiplin
12. Rajin
13. Seni
14. Tegar
15. Suka Menolong
16. Berwibawa
17. Terampil
18. Bermoral
19. Elegan
20. Berani
21. Gembira
22. Rela Berkorban
23. Gila (dalam hal baik)
24. Pantang Menyerah
25. Cerdas
26. Sabar
27. Dewasa
28. Beriman
29. Adil
30. Baik Hati
31. Suka Memberi
32. Ramah
33. Berwawasan Luas
34. Ulet
35. Tabah
36. Istiqomah
37. Dapat Dipercaya
38. Murah Senyum
39. Tawaqal
40. Bijaksana














PERISAI PENDIDIKAN


Dilihat dari segi anak didik, tampak bahwa anak didik secara tetap hidup di dalam lingkungan masyarakat tertentu tempat ia mengalami pendidikan. Lingkungan tersebut meliputi lingkungan keluarga, lingkungan sekolahan, lingkungan masyarakat, yang disebut tripusat pendidikan atau lingkungan pendidikan.
1.      Keluarga
Keluarga merupakan pengelompokan primer yang terdiri dari sejumlah kecil orang karena hubungan searah. Keluarga itu dapat berbentuk keluarga inti ( ayah, ibu, dan anak). Menurut Ki Hajar Dewantoro, suasana kehidupan keluarga merupakan tempat yang sebaik-baiknya untuk melakukan pendidikan individual maupun pendidikan sosial.
Keluarga merupakan lembaga pendidikan tertua, bersifat informal, yang pertama dan utama dialamai oleh anak serta lembaga pendidikan yang bersifat kodrati orang tua bertanggung jawab memelihara, merawat, melindungi, dan mendidik anak agar tumbuh adn berkembang dengan baik.

2.      Sekolah
Tidak semua tugas mendidik dapat dilaksanakan oleh orang tua dalam keluarga, terutama dalam hal ilmu pengetahuan dan berbagai macam keterampilan. Oleh karena itu dikirimkan anak ke sekolah.
Sekolah merupakan sarana yang secara sengaja dirancang untuk melaksanakan pendidikan. Semakin maju suatu masyarakat semakin penting peran sekolah dalam mempersiapkan generasi muda sebelum masuk dalam proses pembangunan masyarakat. Sekolah bertanggung jawab atas pendidikan anak-anak selama mereka diserahkan kepadanya. Karena itu sebagai sumbangan sekolah sebagai lembaga terhadap pendidikan, diantaranya sebagai berikut;
a. Sekolah membantu orang tua mengerjakan kebiasaan-kebiasaan yang baik serta menanamkan budi pekerti yang baik.
b. Sekolah memberikan pendidikan untuk kehidupan di dalam masyarakat yang sukar atau tidak dapat diberikan di rumah.
c. Sekolah melatih anak-anak memperoleh kecakapan-kecakapan seperti membaca, menulis, berhitung, menggambar serta ilmu-ilmu lain sifatnya mengembangkan kecerdasan dan pengetahuan.
d. Di sekolah diberikan pelajaran etika, keagamaan, estetika, membenarkan benar atau salah, dan sebagainya.

3.      Masyarakat
Dalam konteks pendidikan, masyarakat merupakan lingkungan lingkungan keluarga dan sekolah. Pendidikan yang dialami dalam masyarakat ini, telah mulai ketika anak-anak untuk beberapa waktu setelah lepas dari asuhan keluarga dan berada di luar dari pendidikan sekolah. Dengan demikian, berarti pengaruh pendidikan tersebut tampaknya lebih luas.
Corak dan ragam pendidikan yang dialami seseorang dalam masyarakat banyak sekali, ini meliputi segala bidang, baik pembentukan kebiasaan-kebiasaan, pembentukan pengetahuan, sikap dan minat, maupun pembentukan kesusilaan dan keagamaan.


Kaitan antara masyarakat dan pendidikan dapat ditinjau dari tiga sisi, yaitu :
a.      Masyarakat sebagai penyelenggara pendidikan
b. Lembaga-lembaga kemasyarakatan atau kelompok sosial dimasyarakat
c.   Dalam masyarakat tersedia berbagai sumber belajar baik yang dirancang, maupun yang dimanfaatkan.
Setiap pusat pendidikan dapat berpeluang memberikan kontribusi yang besar dalam ketiga kegiatan pendidikan, yakni: Pembimbingan dalam upaya pemantapan pribadi yang berbudaya, pengajaran dalam upaya penguasaan pengetahuan dan pelatihan dalam upaya pemahiran keterampilan.
Secara umum fungsi lingkungan pendidikan adalah membantu peserta didik dalam interaksi dengan berbagai lingkungan sekitarnya, utamanya berbagai sumber daya pendidikan yang tersedia, agar dapat mencapai tujuan pendidikan yang optimal. Terdapat hubungan timbal balik dan saling mempengaruhi antara lingkungan yang satu dengan lingkungan yang lain.
Lingkungan keluarga sebagai dasar pembentukan sikap dan sifat manusia. Lingkungan sekolah sebagai bekal keterampilan dan ilmu pengetahuan, sedangkan lingkungan masyarakat merupakan tempat praktek dari bekal yang diperoleh di keluarga dan sekolah sekaligus sebagai tempat pengembangan kemampuan diri.
Proses mencapai tujuan pendidikan untuk menghasilkan manusia yang unggul baik secara pribadi maupun penguasaan ilmu pengetahuan tidak hanya tergantung tentang bagaiamana sistem pendidikan dijalankan oleh lingkungan pendidikan formal. Namun juga dipengaruhi oleh lingkungan keluarga serta lingkungan masyarakat. Antara lingkungan pendidikan yang satu dan lingkungan yang lain yang disebut sebgaia tripusat. Pendidikan tidak dapat berdiri sendiri, namun ada hubungan saling mempengaruhi diantara lingkungan pendidikan.
Melihat kenyataan bahwa untuk mencapai tujuan pendidikan yang maksimal diperlukan sebuah hubungan timbal balik yang yang erat maka diperlukan sebuah koordinasi antar lingkungan pendidikan. Dalam menentukan kurikulum lingkungan formal (sekolah) baiknya untuk mepertimbangankan faktor lingkungan keluarga dan masyarakat. Bahkan kalau memungkinkan melibatkan keluarga anak didik dan tokoh masyarakat dalam merumuskan kurikulum pendidikan.