Meniti Taqdir
Di dunia adalah meniti
taqdir yang telah ditetapkan oleh Allah SWT, manusia tinggal menjalani
sekenario yang telah di tetapkan. Jika digambarkan perjalanan manusia seolah
bagaikan mimpi di tengah indahnya panorama alam di sekitarnya. Di awal
perjalanan pada hari, tanggal dan bulan yang tidak dicatat lahirlah seorang
jabang bayi dari rahim seorang ibu yang bernama Sulasmi yang diberi nama
Suparli, tetapi karena nama tersebut
kurang cocok ketika itu pula oleh pakde Suratno diganti dengan nama
Supardi. Dalam perjalannya bayi tersebut berkembang sebagaimana jaman ketika
itu, yang dibesarkan bersama taqdir, yang jika digambarkan besar kemenyan lebih
besar daripada besar kepalanya, bersama brambang dan daun dadap srep yang
senantiasa mendampinginya, air susu ibu satu-satunya asupan yang walaupun hanya
dengan makanan sekenanya dapat menghidupi bayi tersebut.Yang ketika itu
kelahiran hanya didampingi seorang dukun bayi profesional, karena merekalah
satu-satunya tumpuan hidup dan mati kelahiran seorang bayi, yang ketika itu
sebenarnya negara sudah merdeka, pemerintah sudah berdiri, tetapi masih belum
hadir di daerah pegunungan terpencil di Desa Pager Lor. Pamong desa yang ada
masih berbau teodalisme, masih ingin dilayani bukan sebagai pelayan masyarakat,
bahkan konon ceritanya seorang Lurah masih memiliki sentono (ajudan) yang
tugasnya begitu mulia karena sebagai penderek/abdi , yang bahkan ketika berada
di forum pertemuan jika seorang lurah kentut disuruh mengakui sentono tersebut
untuk menutupi aib lurahnya. Dengan
tantangan dan beratnya kehidupan ketika itu, simbok (ibu) membesarkan bayi
tanpa didampingi seorang suami, karena ditinggal merantau di bumi seberang
pulau Sumatra di Lampung untuk mengadu nasib, walaupun sebenarnya tidak
mendapatkan penghasilan yang layak untuk keluarga. Bayi tersebut mengalami
pertumbuhan sebagaimana adanya zaman itu, yang sudah saya sadari ketika itu aku
di asuh oleh keluarga kakek (Rono setro) dan nenek (Jemirah), seorang nenek
yang begitu perhatian walaupun baru saya ketahui ketika aku sudah jadi guru
ternyata nenek tersebut nenek tiri, karena istri kakek yang bernaa Toinah sudah
meninggal ketika simbok (ibu) masih bayi. Kakek dan nenek begitu perhatian
terhadap aku, yang aku ingat katanya kesukaan saya sayur santan, sehingga
walaupun bagaina caranya kakek harus memanjatkan kelapa. Yang tak mungkin
kelupakan jika nenek pergi ke pasar keso aku diajak makan soto, makanan langka
ketika itu, dan dibelikan sempritan pada mbah Sodinomo. Jika aku sakit segera
diajak ke rumah mbah dukun yang bernama mbah Noyo, dengan membawa sebungkus syarat dari daun
pisang yang berisi tembakau dan kemenyenan serta sedikit uang jika punya. Pagi-pagi
benar sudah tiba di rumah mbah dukun dengan harapan ludahnya yang masih bacin
dengan mengunyah sedikit kemenyan dengan bibir komat-kamit kemudian
menyemburkan kemenyan tersebut di ubun-ubun saya. Dengan keyakinan yang besar
dan secara alamiah sakit saya lambat laun sembuh. Seorang nenek tiri yang
begitu perhatian terhadap saya hahkan baru saya ketahui setelah sudah dewasa.
Ternyata tidak semua yang bernama tiri memandang sebelah mata terhadap cucunya,
ketika panen kelapa tidak lupa membelikan sedikit daging kambing yang dimasak
dengan parutan kelapa (dendeng ragi) disimpan baik-baik di dalam kothak meja
dapur dan diberikan pada saya untuk beberapa hari dan hanya sebagian yang
diberikan pada keluara yang lain, ini pertanda kecintaan nenek pada saya. Juga
yang selalu saya ingat jika ngebruk nasi di atas iyan yang dikipasi ilir
dipegang sebelah kiri dan enthong di sebelah kanan m encampur nasi tersebut
agar pulen thiwul dan sedikit beras tersebut dan tidak lupa menyisihkan sedikit
nasi putih (ucet) yang ada untuk saya. Juga
apabila saya sakit perut tidak lupa dimasakkan jeroan dengan bumbu cabe untuk
kesembuhan sakit saya, dan jika saya sakit kulit (kadas atau kudis) maklum
kebersihan ketika itu masih minim dan pakaianpun hanya seadanya, mandi tidak
terjadual pasti, kadang siang, kadang sore, adapun obatnya disuruh mencari
sendiri yaitu dengan berburu tokek kemdian dipanggang oleh nenek dimumbui
dengan kunir dan asem, begitu lezatnya dan tak lama kemudian secara alamiah dan
khsiat dari tokek tersebut segera sembuh. Ketika usia saya diantara kesadaran
dan belum, kakek saya meninggal dengan menderita sakit di dada sebelah kiri
tumbuh benjolan, yang sebelumnya sudah diupayakan dengan mencari dukun
kemana-man sampai dukun prewangan namun ajal tak bisa ditolak. Saat itu
selamatan dilakukan oleh seluruh anak-anaknya dengan menyembelih kambing
sendiri-sendiri dan kenduri dilaksanakan pagi hari. Itupun saya belum merasa
kehilangan atas kematian kakek saya bahkan merasa senang ketika
berpindah-pindah kenduri dengan lauk daging kambing, bahkan ketika jatuh
saatnya kenduri di rumah nenek tak lupa nenek menyisihkan ginjal dan alat
kelaminnya untuk saya. Ketika kakek sudah meninggal saya diasuh nenek bersama
siwo/pakde Suyitno (anak tiri), siwo/mbokde Boinah (anak kandung nenek) dan Yu
Katirah cucu nenek yang lain. Jika musim padi aku diajak keluarga ke hutan menanam
padi dan yang selalu saya ingat sebelum menanam padi di lakukan kenduri di
Ranggon dengan tumpeng nasi campur dan urap seadanya dan memetri (nasi dicetak
dengan cangkir) tidak lupa sanntan yang di tuang ke dalam cangkir yang diberi
irisan buah terong, enaknya luar basa. Ketika padi padi sudah berisi saya
diajak tunggu burung di hutan bersama wo Suyitno dengan dibekali nasi thiwul
dikrawu, kemudian saatnya makan
diambilkan lomtoro. Kehidupan saat itu
begitu berat, mencari sesuap nasi thiwul pun tidak gampang, lahan sebenarnya
ada tetapi belum bisa mengolah lahan dengan maksimal, ditanami ketela, sedikit
polowijo seadanya, padipun hanya panen satu kali setahun. Ketika larang pangan
wo Boinah yang kakinya cacatpun harus membeli gebing ke Panggul dan di jual ke
pasar Lorok, dimana setiap kebo/sak mengambil 5-7 blebek gebing untuk dimakan
kemudian dijual yang penting bisa pulih modal. Ketika puncak larang pangan
harus kami sekeluarga hanya makan srikoyo dikukus kemudian dikrawu dengan sayur
daun ketela, itupun berlangsung dalam waktu yang cukup lama hanya sesekali
makan nasi thiwul. Ketika menginjak dewasa akupun belum tahu siapa ibu dan
siapa ayah, karena nenek itulah yang saya anggap orang tua saya. Ketika masa
kecil saya tidak merasakan kasih sayang seorang ibu dan seorang ayah, karena
ibu hidup sendiri di rumahnya dan ayah ada di Lampung. Pada saat ayah sudah
pulang dari perantauannya, ayahpun hanya sesekali menyambangi dan itupun hanya
di rumah mbale sedangkan saya di rumar dapur bersama nenek, tidak pernah
menyapa saya hanya nenek cerita kalau bapakmu ada di mbale, ibupun demikian
walaupun berada di rumah entah karena apa, tidak pernah menengok saya. Masa
kecil saya banyak bergaul dengan anak-anaknya wo/de Soinem, yu Laminah, yu Samurah,
kang Utari/Utoro. Pada usia sekolah masuk kelas satu, sayapun masih terlampau
belum menyadari pentingnya pendidikan, setiap hari berangkat sekolah selalu
siampiri kang Utari dan kang Sujatno, dengan alat tulis sabakbdan grip. Dengan
berangkat ke sekolah kadang belum mandi, pakaian seadanya bahkan memiliki
pakaian mungkin hanya satu setel, untuk sekolah, untuk bermain, untuk ke
langgar dan jarang di cuci bahkan mencucipun belum dengan sabun sesekali dengan
daun jarak. Beranjak dewasa aku punya pekerjaan ngarit, tidak kenal hujan/panas
aku melakukan pekerjaan itu, di sekolah yang penting berangkat, belum ada
motivasi dari dalam maupun dari luar. Aku di sekolah tidak tergolong anak yang
pandai, di kelas itu yang pandai kang Sujatno, kang Utari, tetapi jiwa
kepemimpinan sudah ada, terbukti tanpa aku minta selalu sebagai ketua kelas
sampai dengan kelas enam, bahkan ketika Upacata bendera aku ditunjuk sebagi
komendan Upacara. Sekali lagi walaupun sebagai komandan upacara pakaian hanya
seadanya. Pada masa usia SD kesenian yang ada kethoprak, Ludruk dan yang paling
populer Reog Ponorogo.
Walaupun suka nonton
nuansa magis masih mencolok, sebelum reog dimainkan kepala reog ditaruh di atas
kursi sambil dikutuki dengan kemenyan diiringi gamelan yang bertalu-talu konon untuk
mengundang setan dan penonton, sehingga walaupun merasa terhibur menonton
dihantui rasa takut jika ada parogo reog yang mbabuk, bahkan ketika mbabuk
sebuah kelapa hanya dibuka dengan kekuatan gigi.
Menonton Ludruk dari
Lorok ketika itu di keso Pager Kidul sampai-sampai hafal dengan tari remonya.
Saking sukanya dengan Ludruk sampai-sampai di amben dapur rumah nenek aku
gunakan sebagai panggung sebagamana layaknya tempat bermain ludruk. Adapun alat
yang digunakan Jarik/ sampir nenek untuk geber, akar sejenis sembu’an untuk
kabel, kukusan amoh sebagai corong/spiker, separo bathok kelapa dan d ibungkus
kain, dengan asiknya bermain sendiri nggandang, ngremo, diiringi dengan gong
gonjor tabuh congor. Disamping itu juga sudah rajin mengaji di Langgar Keser
sesekali nginap dan yang paling terkesan, ketika nginap di langgar aku ngompol,
dibangunkan untuk berwudhu di kali bersama-sama, aku cepat-cepat kembali lebih
dahulu menempati bekas tidur saya agar bau ompol tidak diketahui orang lain,
yang ketika itu belum memahami pentingnya bersuci. Di Langgar Keser ketika itu
juga dibuka madrasah yang dilaksanakan setelak shalat Isak, yang shalat Isaknya
bukan jam tujuh tetapi setelah habis ngaji seluruh siswa, di rumah wo/de
Toimin/Ginem. Jika bulan Ramadhan nambak, sayur dicampur di rumah wo Ginem untuk
makan sahur besama-sama. Dan ketika aku di rumah Simbok/Bapak aku ngaji bersama
kang Sarmin di Crabak dan jika Ramadhan aku nginap di rumah kang Sarmin/mbah Kadinem
makan sahur dengan sayur seadanya dan lauk jenang piteng.
Ketika kelas lima aku
pulang ke rumah Bapak/simbok di Nggondang bersama-sama Mbah Pojoyo. Saat itu
untuk biaya sekolah dll aku sambil buruh memanjat kelapa milik tetangga, yang
menjadi langganan kelapa mbah Kartiyem, kelapa wo Sariman dan sesekali milik wo
Rakim hasil buruhannya dijual untuk
memenuhi kebutuhan sendiri, bahkan simbokpun pernah meminjam yang tak pernah
dikembalikan. Pada saat memanjat kelapa di rumah wo Sariman, beliau dapat
undian nalo 17 agustus dengan hadiah kambing, akhirnya kambing tersebut saya
pelihara, kandangpun saya bikin sendiri tanpa bantuan orang tua. Di rumah orang
tua sendiripun pernah mengalami larang pangan, bahkan ketika itu dapat bantuan
gaplek yang sudah dimakan bubuk itupun rasanya enak sekali karena dalam
beberapa hari bahkan bulan yang dimakan gelang dari pohon aren.Pohon aren
ditumbuk dijadikan jenang godir, dijadikan nasi untuk dimakan setiap hari.
Setelah ujian SD aku
dengan Pak Wasidi didaftarkan ke SMPN Lorok, ketika itu saatnya banjir aku
dititipkan Pak Imam Njayan bersama putranya untuk menyeberang sungai dan mentas
di Prancak untuk mengikuti tes di SMP, tetapi dengan pengetahuan yang kurang
tidak lulus, akhirnya mendaftar di SMP Pancalia. Sepeninggalan saya ke SMP lima
kambing aku tinggalkan, akhirnya entah kemana kambing tersebut telah habis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar