Senin, 29 Desember 2014

STORY OF MY FATHER

Meniti Taqdir
Di dunia adalah meniti taqdir yang telah ditetapkan oleh Allah SWT, manusia tinggal menjalani sekenario yang telah di tetapkan. Jika digambarkan perjalanan manusia seolah bagaikan mimpi di tengah indahnya panorama alam di sekitarnya. Di awal perjalanan pada hari, tanggal dan bulan yang tidak dicatat lahirlah seorang jabang bayi dari rahim seorang ibu yang bernama Sulasmi yang diberi nama Suparli, tetapi karena nama tersebut  kurang cocok ketika itu pula oleh pakde Suratno diganti dengan nama Supardi. Dalam perjalannya bayi tersebut berkembang sebagaimana jaman ketika itu, yang dibesarkan bersama taqdir, yang jika digambarkan besar kemenyan lebih besar daripada besar kepalanya, bersama brambang dan daun dadap srep yang senantiasa mendampinginya, air susu ibu satu-satunya asupan yang walaupun hanya dengan makanan sekenanya dapat menghidupi bayi tersebut.Yang ketika itu kelahiran hanya didampingi seorang dukun bayi profesional, karena merekalah satu-satunya tumpuan hidup dan mati kelahiran seorang bayi, yang ketika itu sebenarnya negara sudah merdeka, pemerintah sudah berdiri, tetapi masih belum hadir di daerah pegunungan terpencil di Desa Pager Lor. Pamong desa yang ada masih berbau teodalisme, masih ingin dilayani bukan sebagai pelayan masyarakat, bahkan konon ceritanya seorang Lurah masih memiliki sentono (ajudan) yang tugasnya begitu mulia karena sebagai penderek/abdi , yang bahkan ketika berada di forum pertemuan jika seorang lurah kentut disuruh mengakui sentono tersebut untuk menutupi aib lurahnya.  Dengan tantangan dan beratnya kehidupan ketika itu, simbok (ibu) membesarkan bayi tanpa didampingi seorang suami, karena ditinggal merantau di bumi seberang pulau Sumatra di Lampung untuk mengadu nasib, walaupun sebenarnya tidak mendapatkan penghasilan yang layak untuk keluarga. Bayi tersebut mengalami pertumbuhan sebagaimana adanya zaman itu, yang sudah saya sadari ketika itu aku di asuh oleh keluarga kakek (Rono setro) dan nenek (Jemirah), seorang nenek yang begitu perhatian walaupun baru saya ketahui ketika aku sudah jadi guru ternyata nenek tersebut nenek tiri, karena istri kakek yang bernaa Toinah sudah meninggal ketika simbok (ibu) masih bayi. Kakek dan nenek begitu perhatian terhadap aku, yang aku ingat katanya kesukaan saya sayur santan, sehingga walaupun bagaina caranya kakek harus memanjatkan kelapa. Yang tak mungkin kelupakan jika nenek pergi ke pasar keso aku diajak makan soto, makanan langka ketika itu, dan dibelikan sempritan pada mbah Sodinomo. Jika aku sakit segera diajak ke rumah mbah dukun yang bernama mbah Noyo,  dengan membawa sebungkus syarat dari daun pisang yang berisi tembakau dan kemenyenan serta sedikit uang jika punya. Pagi-pagi benar sudah tiba di rumah mbah dukun dengan harapan ludahnya yang masih bacin dengan mengunyah sedikit kemenyan dengan bibir komat-kamit kemudian menyemburkan kemenyan tersebut di ubun-ubun saya. Dengan keyakinan yang besar dan secara alamiah sakit saya lambat laun sembuh. Seorang nenek tiri yang begitu perhatian terhadap saya hahkan baru saya ketahui setelah sudah dewasa. Ternyata tidak semua yang bernama tiri memandang sebelah mata terhadap cucunya, ketika panen kelapa tidak lupa membelikan sedikit daging kambing yang dimasak dengan parutan kelapa (dendeng ragi) disimpan baik-baik di dalam kothak meja dapur dan diberikan pada saya untuk beberapa hari dan hanya sebagian yang diberikan pada keluara yang lain, ini pertanda kecintaan nenek pada saya. Juga yang selalu saya ingat jika ngebruk nasi di atas iyan yang dikipasi ilir dipegang sebelah kiri dan enthong di sebelah kanan m encampur nasi tersebut agar pulen thiwul dan sedikit beras tersebut dan tidak lupa menyisihkan sedikit nasi putih (ucet) yang ada untuk saya.  Juga apabila saya sakit perut tidak lupa dimasakkan jeroan dengan bumbu cabe untuk kesembuhan sakit saya, dan jika saya sakit kulit (kadas atau kudis) maklum kebersihan ketika itu masih minim dan pakaianpun hanya seadanya, mandi tidak terjadual pasti, kadang siang, kadang sore, adapun obatnya disuruh mencari sendiri yaitu dengan berburu tokek kemdian dipanggang oleh nenek dimumbui dengan kunir dan asem, begitu lezatnya dan tak lama kemudian secara alamiah dan khsiat dari tokek tersebut segera sembuh. Ketika usia saya diantara kesadaran dan belum, kakek saya meninggal dengan menderita sakit di dada sebelah kiri tumbuh benjolan, yang sebelumnya sudah diupayakan dengan mencari dukun kemana-man sampai dukun prewangan namun ajal tak bisa ditolak. Saat itu selamatan dilakukan oleh seluruh anak-anaknya dengan menyembelih kambing sendiri-sendiri dan kenduri dilaksanakan pagi hari. Itupun saya belum merasa kehilangan atas kematian kakek saya bahkan merasa senang ketika berpindah-pindah kenduri dengan lauk daging kambing, bahkan ketika jatuh saatnya kenduri di rumah nenek tak lupa nenek menyisihkan ginjal dan alat kelaminnya untuk saya. Ketika kakek sudah meninggal saya diasuh nenek bersama siwo/pakde Suyitno (anak tiri), siwo/mbokde Boinah (anak kandung nenek) dan Yu Katirah cucu nenek yang lain. Jika musim padi aku diajak keluarga ke hutan menanam padi dan yang selalu saya ingat sebelum menanam padi di lakukan kenduri di Ranggon dengan tumpeng nasi campur dan urap seadanya dan memetri (nasi dicetak dengan cangkir) tidak lupa sanntan yang di tuang ke dalam cangkir yang diberi irisan buah terong, enaknya luar basa. Ketika padi padi sudah berisi saya diajak tunggu burung di hutan bersama wo Suyitno dengan dibekali nasi thiwul dikrawu,  kemudian saatnya makan diambilkan lomtoro.  Kehidupan saat itu begitu berat, mencari sesuap nasi thiwul pun tidak gampang, lahan sebenarnya ada tetapi belum bisa mengolah lahan dengan maksimal, ditanami ketela, sedikit polowijo seadanya, padipun hanya panen satu kali setahun. Ketika larang pangan wo Boinah yang kakinya cacatpun harus membeli gebing ke Panggul dan di jual ke pasar Lorok, dimana setiap kebo/sak mengambil 5-7 blebek gebing untuk dimakan kemudian dijual yang penting bisa pulih modal. Ketika puncak larang pangan harus kami sekeluarga hanya makan srikoyo dikukus kemudian dikrawu dengan sayur daun ketela, itupun berlangsung dalam waktu yang cukup lama hanya sesekali makan nasi thiwul. Ketika menginjak dewasa akupun belum tahu siapa ibu dan siapa ayah, karena nenek itulah yang saya anggap orang tua saya. Ketika masa kecil saya tidak merasakan kasih sayang seorang ibu dan seorang ayah, karena ibu hidup sendiri di rumahnya dan ayah ada di Lampung. Pada saat ayah sudah pulang dari perantauannya, ayahpun hanya sesekali menyambangi dan itupun hanya di rumah mbale sedangkan saya di rumar dapur bersama nenek, tidak pernah menyapa saya hanya nenek cerita kalau bapakmu ada di mbale, ibupun demikian walaupun berada di rumah entah karena apa, tidak pernah menengok saya. Masa kecil saya banyak bergaul dengan anak-anaknya wo/de Soinem, yu Laminah, yu Samurah, kang Utari/Utoro. Pada usia sekolah masuk kelas satu, sayapun masih terlampau belum menyadari pentingnya pendidikan, setiap hari berangkat sekolah selalu siampiri kang Utari dan kang Sujatno, dengan alat tulis sabakbdan grip. Dengan berangkat ke sekolah kadang belum mandi, pakaian seadanya bahkan memiliki pakaian mungkin hanya satu setel, untuk sekolah, untuk bermain, untuk ke langgar dan jarang di cuci bahkan mencucipun belum dengan sabun sesekali dengan daun jarak. Beranjak dewasa aku punya pekerjaan ngarit, tidak kenal hujan/panas aku melakukan pekerjaan itu, di sekolah yang penting berangkat, belum ada motivasi dari dalam maupun dari luar. Aku di sekolah tidak tergolong anak yang pandai, di kelas itu yang pandai kang Sujatno, kang Utari, tetapi jiwa kepemimpinan sudah ada, terbukti tanpa aku minta selalu sebagai ketua kelas sampai dengan kelas enam, bahkan ketika Upacata bendera aku ditunjuk sebagi komendan Upacara. Sekali lagi walaupun sebagai komandan upacara pakaian hanya seadanya. Pada masa usia SD kesenian yang ada kethoprak, Ludruk dan yang paling populer Reog Ponorogo.
Walaupun suka nonton nuansa magis masih mencolok, sebelum reog dimainkan kepala reog ditaruh di atas kursi sambil dikutuki dengan kemenyan diiringi gamelan yang bertalu-talu konon untuk mengundang setan dan penonton, sehingga walaupun merasa terhibur menonton dihantui rasa takut jika ada parogo reog yang mbabuk, bahkan ketika mbabuk sebuah kelapa hanya dibuka dengan kekuatan gigi.
Menonton Ludruk dari Lorok ketika itu di keso Pager Kidul sampai-sampai hafal dengan tari remonya. Saking sukanya dengan Ludruk sampai-sampai di amben dapur rumah nenek aku gunakan sebagai panggung sebagamana layaknya tempat bermain ludruk. Adapun alat yang digunakan Jarik/ sampir nenek untuk geber, akar sejenis sembu’an untuk kabel, kukusan amoh sebagai corong/spiker, separo bathok kelapa dan d ibungkus kain, dengan asiknya bermain sendiri nggandang, ngremo, diiringi dengan gong gonjor tabuh congor. Disamping itu juga sudah rajin mengaji di Langgar Keser sesekali nginap dan yang paling terkesan, ketika nginap di langgar aku ngompol, dibangunkan untuk berwudhu di kali bersama-sama, aku cepat-cepat kembali lebih dahulu menempati bekas tidur saya agar bau ompol tidak diketahui orang lain, yang ketika itu belum memahami pentingnya bersuci. Di Langgar Keser ketika itu juga dibuka madrasah yang dilaksanakan setelak shalat Isak, yang shalat Isaknya bukan jam tujuh tetapi setelah habis ngaji seluruh siswa, di rumah wo/de Toimin/Ginem. Jika bulan Ramadhan nambak, sayur dicampur di rumah wo Ginem untuk makan sahur besama-sama. Dan ketika aku di rumah Simbok/Bapak aku ngaji bersama kang Sarmin di Crabak dan jika Ramadhan aku nginap di rumah kang Sarmin/mbah Kadinem makan sahur dengan sayur seadanya dan lauk jenang piteng.
Ketika kelas lima aku pulang ke rumah Bapak/simbok di Nggondang bersama-sama Mbah Pojoyo. Saat itu untuk biaya sekolah dll aku sambil buruh memanjat kelapa milik tetangga, yang menjadi langganan kelapa mbah Kartiyem, kelapa wo Sariman dan sesekali milik wo Rakim  hasil buruhannya dijual untuk memenuhi kebutuhan sendiri, bahkan simbokpun pernah meminjam yang tak pernah dikembalikan. Pada saat memanjat kelapa di rumah wo Sariman, beliau dapat undian nalo 17 agustus dengan hadiah kambing, akhirnya kambing tersebut saya pelihara, kandangpun saya bikin sendiri tanpa bantuan orang tua. Di rumah orang tua sendiripun pernah mengalami larang pangan, bahkan ketika itu dapat bantuan gaplek yang sudah dimakan bubuk itupun rasanya enak sekali karena dalam beberapa hari bahkan bulan yang dimakan gelang dari pohon aren.Pohon aren ditumbuk dijadikan jenang godir, dijadikan nasi untuk dimakan setiap hari.
Setelah ujian SD aku dengan Pak Wasidi didaftarkan ke SMPN Lorok, ketika itu saatnya banjir aku dititipkan Pak Imam Njayan bersama putranya untuk menyeberang sungai dan mentas di Prancak untuk mengikuti tes di SMP, tetapi dengan pengetahuan yang kurang tidak lulus, akhirnya mendaftar di SMP Pancalia. Sepeninggalan saya ke SMP lima kambing aku tinggalkan, akhirnya entah kemana kambing tersebut telah habis.


      

Tidak ada komentar:

Posting Komentar